PEDAMARAN, OKI Serasah id – Alunan musik tradisional dan keriuhan warga memadati jalanan Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) pada akhir pekan ini. Masyarakat setempat kembali menggelar prosesi pernikahan dengan adat istiadat khas yang telah diwariskan secara turun-temurun, membuktikan bahwa identitas budaya “Urang” Pedamaran tetap kokoh di tengah modernisasi.
Pesta pengantin kali ini menjadi perhatian warga karena masih memegang teguh tradisi Sapaan, di mana kedua mempelai diarak keliling desa dengan musik jidor.
Dengan balutan pakaian adat berwarna cerah yang didominasi corak keemasan, kedua mempelai tampak bak raja dan ratu sehari, dipayungi dengan payung kebesaran yang menunjukkan martabat keluarga.
Tokoh adat setempat menjelaskan bahwa pernikahan di Pedamaran bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan sebuah ritual sosial yang melibatkan seluruh warga desa.
”Adat Pedamaran ini unik. Ada nilai kebersamaan atau gotong royong yang sangat kental. Mulai dari persiapan tenda hingga masak bersama yang kami sebut dengan istilah setempat, semuanya dilakukan secara gotong royong,” ujar salah satu sesepuh adat.
Beberapa poin unik dalam prosesi pengantin adat Pedamaran yang terlihat dalam acara tersebut meliputi:Arak-arakan (Sapaan): Mempelai berjalan kaki sembari menyapa warga di sepanjang jalan sebagai simbol pengenalan diri kepada masyarakat luas.Petuah Adat: Sebelum duduk di pelaminan, para tetua memberikan nasihat dalam bahasa daerah yang berisi bimbingan hidup berumah tangga.Hidangan Khas: Tamu undangan disuguhi berbagai masakan OKI yang menggugah selera, mempertegas keramah-tamahan warga Pedamaran.
Pihak Pemerintah Kabupaten OKI melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata terus mendorong agar pesta adat seperti di Pedamaran ini tetap dijaga. Selain sebagai identitas daerah, kekayaan adat ini dinilai memiliki potensi wisata budaya yang besar.
”Kita bangga melihat pemuda-pemudi Pedamaran masih bangga mengenakan pakaian adat dan menjalankan prosesi ini. Ini adalah kekayaan intelektual kolektif kita di Bumi Bende Seguguk,” ungkap perwakilan kecamatan yang hadir.
Acara yang berlangsung dari pagi hingga sore hari tersebut ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. Suasana kekeluargaan sangat terasa, menandai bahwa meski zaman terus berubah, tradisi luhur di “Kota Tikar” Pedamaran tidak akan pernah pudar.(ed)


