Oleh: Edy
(Cucu Almarhum M. Zen Bimbing, Pejuang Veteran ’45 asal Jambi)
Jambi Serasah id – Bagi kakek saya dan barisan pejuang Kemerdekaan ’45, merdeka adalah harga mati. Kebebasan bangsa ini dibayar tunai dengan genangan darah, peluh keringat, hingga taruhan nyawa demi merebut Ibu Pertiwi dari cengkeraman penjajah.
Namun hari ini, ketika berdiri di atas tanah yang sama, dada saya sesak oleh sebuah pertanyaan mendasar: Apakah kita benar-benar telah merdeka?
Perasaan “belum merdeka” yang merayap dan membakar dada ini sama sekali bukan bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan para pahlawan. Sebaliknya, ini adalah jeritan kepedihan sekaligus refleksi kritis atas realitas bangsa yang kian bergeser jauh dari cita-cita luhurnya, meski Indonesia kini telah melangkah jauh menembus usia 81 tahun kemerdekaan.
Kemerdekaan sejati seharusnya tidak berhenti pada seremonial pengibaran bendera atau hiruk-pikuk perlombaan tahunan. Merdeka bukan sekadar terbebas dari rantai kolonialisme asing, melainkan hadirnya rasa aman, keadilan sosial, dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat—dari pelosok Jambi hingga penjuru Nusantara.
Ketika rakyat kecil masih tercekik beban ekonomi, ketimpangan makin menganga, dan keadilan kerap memihak pemilik kuasa, di situlah perjuangan para veteran terasa belum tuntas. Pengorbanan para leluhur kita tidak ditujukan agar bangsa ini sekadar berganti nakhoda, tetapi agar rakyatnya berdaulat penuh di tanah airnya sendiri.
Meragukan makna kemerdekaan hari ini adalah bentuk kecintaan yang mendalam pada Indonesia. Ia menjadi pengingat keras bahwa warisan darah veteran tidak boleh digadaikan oleh kelalaian dan ketidakadilan pengelola negara.
Sebagai generasi penerus, tugas kita bukan lagi memikul senjata, melainkan merawat nurani bangsa. Mengkritik kezaliman dan menyuarakan ketimpangan adalah cara kita melanjutkan napas perjuangan ’45—agar darah dan nyawa yang telah gugur di masa lalu tidak bermuara pada kesia-siaan.(“)









